09/01/16

Jatuh dalam Cinta ( Cindy Rambu Amas )


Ketika aku dalam pencarianku
Berjalan melingkar bumi,
Mengitari sebentuk senyum dilangit
Mencari sesuatu yang aku bahkan tak tau siapa itu
Pada suatu waktu, ketika pelangi di ujung mata
Kuingat waktu ketika cinta itu datang padaku
Hariku seolah menemukan terangnya
Pada mata, senyuman, ketulusan dan semuanya menyatu
Dan pada akhirnya aku tau kita punya rasa yang sama
Cinta yang sama, rindu yang sama 
Walau banyak hal yang belum aku pahami tentang dunianya
Aku mau menjalaninya, berlari bersama dia
Bahkan melakukan hal konyol sekalipun
Setiap kepingan puzzle hidupnya mulai kutahu
Aku ingin melihatnya lebih jauh dan tahu dirinya dari mataku
Bukan dari yang kudengar..
Aku berharap dan terus menyusun dan menikmati puzzle ini
dengan cinta yang paling tulus
Dengan harapan yang selalu terbit seperti mentari


Oleh : Urbanus Umbu Katanga, SP

30/05/12

“Suka Membandingkan?”


         Suka membandingkan diri dengan orang lain (comparison) dapat menciptakan akibat negatif dalam hidup kita. Seorang psikolog berkata bahwa sikap suka membandingkan diri dengan orang lain adalah akar dari perasaan rendah diri. Dampak selanjutnya iri hati dan kebencian.

        Kita dapat melihat kenyataan ini dari pengalaman hidup raja Saul. Kehadiran raja Daud dengan keberhasilan-keberhasilannya telah menimbulkan perasaan rendah diri pada diri raja Saul. Ia membandingkan dirinya dengan Daud dan merasa sakit hati ketika mendengar orang-orang lebih memuji keberhasilan Daud. Akibat dari semua itu adalah : sejak hari itu raja Saul benci dan menyimpan dendam kepada Daud. Raja Saul tidak pernah tenang hidupnya.

       Demikian pula yang terjadi dalam hidup kita jika kita suka membandingkan diri dengan orang lain. Kita akan merasa lebih rendah karena orang lain lebih berhasil, lebih kaya, lebih cantik atau tampan, lebih pandai, dsbnya. Membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat kita iri hati. Bila kita hanya melihat kesuksesan orang lain, tanpa belajar memahami pergumulannya dalam mencapai kesuksesan itu, maka kita akan mudah menjadi iri hati.

       Dari pada membandingkan diri dengan orang lain, bukankah lebih bijaksana jika kita belajar dari pengalaman hidupnya? Kita dapat belajar bagaimana ia mampu bangkit dari kegagalan yang dialaminya, belajar tentang ketekunannya dan sikapnya yang tidak pernah menyerah. Terkadang, mungkin kita tidak dapat menghindar dari sebuah situasi untuk membandingkan diri dengan orang lain. Waspadailah dampak buruk dari perilaku ini! Sebaliknya, belajarlah untuk dapat mengambil hal positif darinya.

Sumber : Cakrawala, Mei 2012

23/05/12

Bahaya Pestisida Pada Produk Buah Impor

 Harga buah impor terkadang lebih murah dibanding buah lokal. Apalagi, pengemasannya lebih menggiurkan, warna lebih menarik. Kita mungkin sering lihat di pasar swalayan, kan?
"Harga buah impor yang dijual di supermarket Indonesia kadang lebih murah dibanding harga di negara asalnya. Hal ini tentu saja membuat kita heran sekaligus bertanya, mengapa buah tersebut bisa dijual dengan harga murah?" kata Pakar Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Prof Ahmad Sulaeman.

Tapi hati-hati, ternyata buah impor banyak yang dilapisi lilin. Tujuannya agar tahan selama berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai dua tahun. "Dalam lilin itu juga ditambahkan fungisida agar buah tidak berjamur," ujarnya.

 Hasil dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa fungisida yang biasa ditambahkan adalah jenis fincocillin yang bersifat anti-androgenic yang sama sifatnya seperti DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane). Anti-androgenic ini, katanya, menimbulkan efek mandul pada serangga.

Akibat
Dari berbagai penelitian, katanya, orang yang mengonsumsi pangan yang mengandung residu pestisida, walaupun dalam kandungan yang rendah tenyata mampu menyebabkan demaskulinisasi. Hal ini bisa mengganggu perkembangan organ reproduksinya.

Karenanya, kata dia, tidak mengherankan jika sekarang banyak banci atau kaum alay. Padahal kalau menengok tahun 1960-an, yang disebut banci itu adalah mereka yang punya kelamin ganda.

Misalnya, pelari nasional dari Tasikmalaya akhirnya mengubah kelaminnya menjadi laki-laki, karena sejak dilahirkan ia memiliki kelamin ganda.

Sementara pada zaman sekarang, para banci ini berawal dari laki-laki tulen, tapi lambat laun sifatnya kemayu dan kecenderungan sosialnya ke sesama laki-laki.

"Itu terjadi setelah 30-40 tahun penggunaan pestisida atau revolusi hijau pertama," katanya. Menurut dia, harus diakui bahwa banyaknya kaum alay sekarang ini adalah dampak dari revolusi hijau pertama, dan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di sejumlah negara.
Dampak lain dari pestisida adalah pada anak-anak. Ia mengemukakan, banyak anak yang baru minum ASI (air susu ibu) saja bisa keracunan DDT, akibat sang ibu mengkonsumsi sayur dan buah yang terpapar pestisida. Hal ini dapat mengganggu perkembangan mental dan kognitif anak.

Ahmad menjelaskan, satu penelitian di negara Meksiko yang membandingkan anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik (tanpa pestisida) dan non-organik (disemprot pestisida).

Hasilnya, kata dia, anak yang selalu terpapar pestisida tidak mampu menggambar, sekalipun gambar garis yang sederhana.

Sebaliknya, anak yang biasa mengkonsumsi pangan organik disebutkan mampu menggambar dengan bagus.

Kemudian beberapa risiko penyakit juga dimungkinkan berkembang pada anak yang dilahirkan dari ibunya yang terpapar pestisida, seperti penyakit leukemia dan termasuk autis.

19/05/12

Potensi Gulma Gringsingan Sebagai Pestisida Nabati

Oleh : Urbanus Umbu Katanga              

            Pengembangan penerapan teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan kini terus mendapat perhatian dan penekanan yang cukup kuat sebagai dasar pembangunan pertanian berkelanjutan. Pembangunan pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan antara lain harus dapat memelihara tingkat produksi Sumber Daya Alam (SDA) yang berwawasan lingkungan serta harus mengurangi dampak pertanian yang dapat menimbulkan pencemaran dan penurunan kualitas hidup (Anisah, 2008). 
   
            Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah salah satu bagian penting dari teknologi pertanian. Menurut Ginting (2011)pestisida kimia sintetik sering digunakan sebagai pilihan utama untuk mengendalikan OPT. Alasannya, pestisida mempunyai daya bunuh yang tinggi, penggunaannya mudah, dan hasilnya cepat untuk diketahui. Namun bila diaplikasikan secara kurang bijaksana dapat membawa dampak pada pengguna, hama bukan sasaran, maupun lingkungan. Istiokarini (2002) menyatakan bahwa petani cenderung menggunakan pestisida kimia secara berlebihan antara lain karena modal dalam usaha tani yang cukup besar sehingga petani tidak mau menanggung resiko kegagalan usaha tani, konsumen menghendaki produk yang bersih (blemish free), dan kurang tersedianya pengendalian non kimiawi. Penggunaan pestisida kimiawi sintetik yang tidak bijaksana dapat menimbulkan akibat-akibat sampingan yang tidak diinginkan seperti resistensi, fenomena resurgensi, terbunuhnya organisme lain yang bukan sasaran termasuk musuh alami, ledakan hama sekunder, residu pada tanaman dan bagian tanaman, pencemaran lingkungan dan kecelakaan bagi manusia (Oka, 2005). 

             Untuk memperkecil dampak negatif penggunaan pestisida kimiawi yang tidak bijaksana maka dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 tahun 1995 pasal 3 telah ditetapkan bahwa perlidungan tanaman dilaksanakan melalui sistem pengendalian hama terpadu (PHT); dalam pasal 19 dinyatakan bahwa penggunaan pestisida dalam rangka pengendalian OPT merupakan alternatif terakhir. Oleh karena itu, perlu dicari pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran namun aman terhadap organisme bukan sasaran dan lingkungan. Salah satu komponen PHT yang mempunyai prospek untuk dikembangkan adalah pestisida nabati, yaitu pestisida yang bahannya berasal dari tumbuh-tumbuhan 

       Gulma Gringsingan (Hyptis suaveolens) (Famili : Lamiaceae) di Nusa Tenggara Timur, dapat dengan mudah kita jumpai. Gulma ini dapat tumbuh di mana saja seperti di pinggiran jalan atau di tanah kering sekalipun. Gulma yang berasal dari Meksiko ini mempunyai daya  penyebarannya yang sangat cepat, oleh karena itu di Afrika gulma ini digolongkan ke dalam invasive alien spesies. Bahkan Hyptis suaveolens (Gambar 1) digolongkan ke dalam gulma yang paling berbahaya (Oppong-Anane & Francais, 2002).
                                  (Gambar 1. Gulma Gringsingan / Hyptis Suaveolens)           

      Namun dibalik kerugian yang ditimbulkan, gulma ini mempunyai banyak manfaat. Di India daun dan ranting H. suaveolens digunakan sebagai antirematik, antifertilitas, antiseptik pada luka bakar, dan pengobatan untuk penyakit kulit. Asap dari daun kering yang dibakar dapat digunakan untuk mengusir nyamuk. Hampir semua bagian tanaman ini dapat digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit (Shenoy, 2009). Sedangkan di Brazil, H.suaveolens populer digunakan dalam pengobatan pernapasan dan pencernaan infeksi, gangguan pencernaan, masuk angin, nyeri, demam, sakit dan penyakit kulit. Daunnya digunakan sebagai obat antikanker dan antifertilitas (Moreira et al., 2009). 

          Di Indonesia terlebih khusus di Nusa Tenggara Timur, penggunaan gulma ini sebagai obat-obattan belum dapat teridentifikasi, terlebih penggunaan gulma ini dalam pengendalian hama, dapat dikatakan tidak ada. H. suaveolens memiliki potensi yang sangat besar sebagai pestisida nabati. Seperti yang telah dibuktikan bahwa kandungan minyak atsiri dalam H. Suaveolens berpengaruh nyata dalam penghambatan jamur dari spesies Aspergilus (Moreira et al., 2009. hal ini semakin dikuatkan dengan hasil anilisis kandungan kimia dari H. Suaveolens bahwa terdapat alkaloid (14,32%), flavonoid (12,54%) , saponin (0,30%) dan tanin (0,52) (Edeoga et al, 2006). 


Daftar Pustaka 

Anisah, S.E.(2008). Uji Antagonisme Pseudomonas spp. Terhadap Jamur Fusarium sp. Asal Bawang Daun (Allium fistulosum L.) Secara In Vitro[Sripsi]. FPMIPA.Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. 

Ginting H. B. 2011. Uji Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati Terhadap Hama Ulat Tritip (P. xylostella L.) dan Hama Ulat krop (C. binotalis Zell.) pada Tanaman Kubis (B. oleracea L.) [Sripsi]. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara, Medan. 

Istokarini Yunik, 2002. Pengendalian Penyakit Tumbuhan Yang Ekologis Dan Berkelanjutan. Http://tumoutou.net/702_05123/yunik_istikorini.htm. Diakses: 21 Maret 2012 

Oka N.I., 2005.Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 

Moriera A.C.P, Lima E. O., Wanderley P.A., Carmo E.S., & de Souza A. L., 2010. Chemical composition and antifungal activity of Hyptis suaveolens (L.) Poit leaves essential oil against Aspergillus species. Universidade Federal da Paraíba, João Pessoa, PB, Brasil. 

Oppong-Anane, K. & Francais, 2002. Ghana Country Pasture/Forage Resource Profiles. Ministry of Food and Agriculture, Accra-North, Ghana. 

Shenoy C., M. B. Patil & R. Kumar, 2009. Wound Healing Activity of Hyptis suaveolens (L.) Poit(Lamiaceae). Department of Pharmacognosy and Phytochemistry, K.L.E.S’s College of Pharmacy, Belgaum, Karnataka, India.

15/07/11

“Simbiosis (Predatisme) antara Beberapa Serangga dengan Hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal) ”

PENDAHULUAN
Wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan hama penting tanaman padi di Indonesia. Hama ini mampu membentuk populasi cukup besar dalam waktu singkat dan merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan.
Kerusakan tanaman disebabkan oleh kegiatan makan dengan menghisap cairan pelepah daun (Baehaki 1989; Pathak 1988).Wereng batang coklat (WBC) sulit diatasi dengan satu cara pemberantasan. Hal ini disebabkan WBC mempunyai daya perkembangbiakan cepat dan segera dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.(Marheni, 2004)
Pendekatan masalah hama ini dilakukan dengan konsep pengelolaan hama, antara lain dengan musuh alami. Wereng coklat mempunyai banyak musuh alami, terdiri atas predator, parasit, dan patogen. (Arifin, 1983).
Dalam beberapa pengamatan di lapangan, WBC mempunyai banyak musuh alami di alam terutama predator, mencapai 19–22 famili dan parasitoid 8–10 famili. Predator–predator ini cocok untuk pengendalian WBC karena kemampuannya memangsa spesies lain (polyfag) sehingga ketersediaannya di alam tetap terjaga walaupun pada saat populasi WBC rendah atau di luar musim tanam (Mahrub & Arwiyanto 2003 dalam Marheni, 2004).
Tujuan
Untuk Mengetahui Kemampuan Beberapa Predator pada Pengendalian Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.)
PEMBAHASAN
Masalah Hama Wereng Batang Coklat
Serangga wereng coklat berukuran kecil, panjang 0,1-0,4 cm. Wereng coklat bersayap panjang dan wereng punggung putih berkembang ketika makanan tidak tersedia atau terdapat dalam jumlah terbatas. Dewasa bersayap panjang dapat menyebar sampai beratus kilometer.
Dalam masa perkembangannya, wereng coklat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu makroptera dan brakhiptera. Makkroptera adalah wereng coklat yang memiliki sayap panjang. Wereng coklat ini dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan terbang menggunakan sayapnya tersebut. Sedangkan brakhiptera adalah wereng coklat yang bersayap pendek. Wereng coklat ini mempunyai kemampuan bereproduksi yang tinggi. Jenis wereng coklat brakhiptera dapat berubah menjadi makroptera apabila populasi wereng coklat pada suatu pertanaman sudah terlalu banyak.
Wereng coklat secara langsung dapat menyebabkan penyakit hopperburn. Hopperburn adalah gejala pada tanaman yang terserang wereng ini dengan penampakan tanaman kering seperti terbakar. Secara tidak langsung wereng coklat ini dapat berperan sebagai vector penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Kerdil hampa adalah penyakit pada tanaman padi dengan gejala tidak terisinya malai karena virus ini menyerang pada fase vegetatif. Sedangkan kerdil rumput merupakan penyakit dengan gejala yang hampir mirip karena merupakan gejala lanjutan dari penyakit kerdil hampa. Ciri khas dari penyakit kerdil rumput ini adalah selain malai tidak terbentuk, perawakan dari tanaman padi berkembang menyerupai rumput ilalang.
Biotipe adalah suatu populasi atau individu yang dapat dibedakan dari populasi atau individu lain bukan karena sifat morfologi, tetapi didasarkan kepada kemampuan adaptasi, perkembangan pada tanaman inang tertentu, daya tarik untuk makan, dan meletakkan telur. Dari pengalaman yang panjang, yakni sejak munculnya serangan wereng coklat di Indonesia yang pertama kali pada tahun 1930, wereng coklat terbukti mampu beradaptasi secara terus menerus bila dipelihara pada suatu varietas dan mampu mematahkan ketahanan varietas serta menghilangkan daya seleksi varietas yang ditempatinya. Oleh karena itu, dalam mengendalikan wereng coklat perlu adanya pergiliran varietas. Hal ini dilakukan untuk menunda seleksi terarah yaitu untuk menunda terjadinya biotipe baru. Pergiliran varietas adalah bagian dari pergiliran tanaman dengan tanaman sejenis yang berbeda ketahanannya.
Sejak diketahuinya ada wereng coklat pada 1930 (biotipe nol), baru timbul wereng coklat biotipe 1 pada tahun 1971. Pada Tahun 1967 diintroduksi varietas padi unggul ajaib IR5 dan IR8 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat, namun berproduksi tinggi yaitu lebih dari 2 kali lipat produksi padi yang telah ada saat ini. Hanya saja nasinya berasa pera. Lalu, pada tahun 1971 dilepas varietas Pelita I/1 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat dengan rasa nasi enak dan pulen. Tetapi pada tahun 1972 terjadi ledakan serangan wereng coklat pada varietas-varietas tersebut, hal ini karena ada perubahan biotipe wereng coklat biotipe nol menjadi wereng coklat biotipe 1.
Pada tahun 1975, untuk menghadapi wereng biotipe 1 telah diintroduksi varietas IR26 (gen tahan Bph 1) dari IRRI. Namun demikian, pada tahun 1976 terjadi ledakan wereng coklat yang hebat dibeberapa daerah sentral produksi padi. Hal ini karena ada perubahan wereng coklat biotipe 1 ke wereng coklat biotipe 2. Pada tahun 1980, untuk menghadapi wereng biotipe 2 diintroduksi lagi varietas IR42 (gen tahan bph2) dari IRRI. Varietas baru ini mampu bertahan dilapangan, namun pada perbesar MP 1981 / 1982 dilaporkan dari kabupaten Simalunggun – Sumatera Utara bahwa IR42 telah terserang wereng coklat. Wereng coklat tersebut diuji di laboratorium reaksinya terhadap varietas diferensial menyimpang dari sifat biotipe yang etlah diketahui, sehingga wereng tersebut dimasukkan sebagai wereng coklat IR 42 SU (Deli Serdang). Wereng coklat yang meledak di Sumatera Utara hampir mirip dengan wereng coklat populasi asia selatan (SAA) yang terdapat di India dan Srilanka. Pengujian biotipe terus dilanjutkan dan akhirnya diketahui bahwa wereng yang menyerang IR42 di Sumut adalah wereng coklat biotipe 3.
Untuk menghadapi wereng coklat biotipe 3 telah diintroduksikan varietas padi IR 56 (gen tahan Bph3) pada 1983 dan IR64 (gen tahan Bph1+) tahun 1986. Ternyata varietas IR64 ini menyelamatkan bangsa, karena mempunyai rasa nasi enak, produksi tinggi, dan tahan wereng coklat biotipe 3, sehingga petani menjadi tenang bila menanam varietas tersebut. Sejak itu banyak varietas padi buatan bangsa Indonesia yang dilepas untuk menghadapi wereng coklat di pertanaman, namun varietas baru tersebut dilepas sebagai keturunan dari IR64. Dilain pihak varietas IR56 kurang beruntung karena tak banyak disukai petani. Selanjutnya sebagai antisipasi dini kemungkinan terjadinya serangan wereng coklat biotipe 4 maka pada tahun 1991 diintroduksi varitas IR74 (gen tahan Bph3) untuk mempertinggi keragaman genetik pertanaman mozaik. Namun demikian varietas IR74 yang mempunyai rasa nasi pera tidak bisa ditanam petani.
Pada 2005 beredar isu nasional karena terjadi serangan wereng coklat pada tanaman padi di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terhadap varietas IR64 dan beberapa varietas populer lainnya yang telah patah ketahanannya dari uji ketahanan varietas lanjutan menunjukkan bahwa varietas IR42 (Bph2) sudah patah ketahananya terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak dengan reaksi agak peka sampai peka, sedangkan Cisadane dan Ciliwung dan Tukad Petanu berekasi agak tahan sampai agak peka.
Varietas IR64, IR6, Cisadane, Sri Putih, Sri Putih Jateng, Ciherang, Bondoyudo, Kalimas dan membramo berekasi agak tahan terhadap wereng coklat asal Patih dan Demak. Pada 2005 teridentifikasi bahwa pada wereng coklat di Patih masih tetap merupakan biotipe 3 yang mulai berkembang sejak tahun 1995, sedangkan yang di Demak berubah dari wereng coklat biotipe 2 pada 1985 menjadi wereng coklat biotipe 3 pada tahun 2005.
Kestabilan wereng coklat biotipe nol bertahan selama 41 tahun sebelum menjadi wereng coklat biotipe 1. perubahan wereng coklat biotipe 1 ke wereng coklat biotipe 2 hanya dalam waktu 4 tahun, dan perubahan wereng coklat biotipe 2 ke wereng coklat bitipe 3 hanya dalam kurun waktu 5 tahun. Setelah terjadi wereng coklat biotipe ke 3 sampai 2005 sudah 25 tahun sejak terjadinya wereng coklat biotipe 2 masih tetap didominasi wereng coklat biotipe 3, namun pada 2006 seudah mulai ada wereng coklat biotipe 4 di Asahan, Sumatera Utara. Keberadaan wereng coklat biotipe 3 yang cukup lama, disebabkan adanya varietas IR64. (Bph 1 +) yang merupakan varietas Durable resistance sebagai penyangga perubahan wereng coklat di biotipe yang lebih tinggi, juga disebabkan tidak berkembangnya varietas IR74 (Bph3) yang akan menyulut terbentuknya biotipe baru.
Untuk keperluan manajemen pengendalian wereng coklat diperlukan data tingkat biotipe dari seluruh sentra produksi padi dan data ketahanan galur / varietas terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, 3 dan 4. Identifikasi wereng coklat untuk menentukan tingkat biotipenya terus dilanjutkan terutama pada daerah-daerah yang varietas IR64 telah patah ketahanannya. (Baehaki, 2007 dalam http://fitrifatmaw08.student.ipb.ac.id)
Jenis Spesies Predator
Beberapa spesies laba- laba seperti Pardosa pseudoannulata Boesenberg. (O: Araneida, F: Lycosidae) dan Tetragnatha maxillosa Thorell. (O: Araneida, F: Lycosidae) bersifat predator terhadap WBC dan serangga hama tanaman padi lainnya, bergerak aktif untuk menggigit dan mengunyah mangsanya (Anonim 1989). Selain spesies laba-laba, pemangsa WBC lainnya adalah kepik (Cyrtorhinus lividipennis Reuter) yang memangsa imago dan telur wereng lalu menghisapnya sampai kering; kumbang (Ophionea nigrofasciata Schmidt-Goebeld) disebut kumbang tanah berbadan keras dan aktif, tubuh mengkilap serta alat mulutnya mengunyah; dan belalang (Conocephalous longipennis de Haan.).
Rata-rata Jumlah Hama Wereng yang dimangsa oleh Predator
Marheni, 2004 menunjukkan bahwa penggunaan beberapa jenis predator pemangsa WBC dapat menekan populasi WBC dan intensitas serangan terhadap tanaman padi. Predator Paradosa pseudoannulata mempunyai kemampuan memangsa lebih tinggi dibandingkan dengan predator-predator lainnya yaitu rata-rata 4,05 ekor per hari. Kemudian disusul oleh predator Tetragnatha maxillosa .
Hal ini disebabkan laba-laba Paradosa pseudoannulata merupakan laba-laba pemburu yang sangat aktif bergerak dan menggunakan banyak waktu untuk mencari mangsanya, sedangkan laba-laba bertaring panjang Tetragnatha maxillosa merupakan pemangsa penting terhadap serangga terbang (Calagher 1990).
Sedangkan kemampuan predator Cyrtorhinus lividipennis memangsa hama WBC hanya rata- rata 0,38 ekor per hari, disebabkan Cyrtorhinus lividipennis lebih bertindak sebagai predator telur daripada predator nimfa dan imago (Manti 1989 dalam Marheni 2004). Menurut Manti (1989) sepasang predator Cyrtorhinus lividipennis dapat memangsa 9,17 telur per hari dan hanya 0,33 ekor imago WBC per hari.
Predator Ophionea nigrofasciata hanya memangsa 1,79 ekor WBC per hari karena predator ini lebih menyukai memangsa larva penggulung daun daripada WBC (Shepard et al, 1990). Dengan demikian, preferensi tiap jenis predator dapat mempengaruhi intensitas pemangsaan predator itu terhadap jenis tertentu dari mangsanya.
Kesimpulan
Di lapangan ditemukan beberapa spesies laba- laba seperti Pardosa pseudoannulata Boesenberg. (O: Araneida, F: Lycosidae) dan Tetragnatha maxillosa Thorell. (O: Araneida, F: Lycosidae) bersifat predator terhadap WBC dan serangga hama tanaman padi lainnya, bergerak aktif untuk menggigit dan mengunyah mangsanya (Anonim 1989). Selain spesies laba-laba, pemangsa WBC lainnya adalah kepik (Cyrtorhinus lividipennis Reuter) yang memangsa imago dan telur wereng lalu menghisapnya sampai kering; kumbang (Ophionea nigrofasciata Schmidt-Goebeld) disebut kumbang tanah berbadan keras dan aktif, tubuh mengkilap serta alat mulutnya mengunyah; dan belalang (Conocephalous longipennis de Haan.).
Dan dari jenis-jenis predator tersebut, Predator Paradosa pseudoannulata mempunyai kemampuan memangsa lebih tinggi dibandingkan dengan yaitu rata-rata 4,05 ekor per hari. Kemudian disusul oleh predator Tetragnatha maxillosa .
PENUTUP
Kesimpulan
Di lapangan ditemukan beberapa spesies laba- laba seperti Pardosa pseudoannulata Boesenberg. (O: Araneida, F: Lycosidae) dan Tetragnatha maxillosa Thorell. (O: Araneida, F: Lycosidae) bersifat predator terhadap WBC dan serangga hama tanaman padi lainnya, bergerak aktif untuk menggigit dan mengunyah mangsanya (Anonim 1989). Selain spesies laba-laba, pemangsa WBC lainnya adalah kepik (Cyrtorhinus lividipennis Reuter) yang memangsa imago dan telur wereng lalu menghisapnya sampai kering; kumbang (Ophionea nigrofasciata Schmidt-Goebeld) disebut kumbang tanah berbadan keras dan aktif, tubuh mengkilap serta alat mulutnya mengunyah; dan belalang (Conocephalous longipennis de Haan.).
Dan dari jenis-jenis predator tersebut, Predator Paradosa pseudoannulata mempunyai kemampuan memangsa lebih tinggi dibandingkan dengan yaitu rata-rata 4,05 ekor per hari. Kemudian disusul oleh predator Tetragnatha maxillosa .

DAFTAR PUSTAKA
Marheni.2004. Kemampuan Beberapa Predator pada Pengendalian Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.). Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Faperta, Universitas Sumatera Utara.Medan.
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.knowledgebank.irri.org diakses tanggal Pada tanggal 1 Juli 2011
http://fitrifatmaw08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/wereng-coklat/ diakses tanggal Pada tanggal 1 Juli 2011
http://rkb.irri.org/ipm/index.php/spiders/orb-spider/92-long-jawed-spider diakses tanggal Pada tanggal 3 Juli 2011

15/05/11

Bagaimana Manusia Tanpa Bakteri??

Data tentang triliunan bakteri mengerumuni kulit dan seluruh tubuh manusia terdengar sangat menakutkan. Namun ahli biologi mikro Anne Maczulak menegaskan, manusia tak bisa hidup tanpa bakteri.

Penulis buku ‘Allies and Enemies: How the World Depends in Bacteria’ ini menjelaskan, manusia tak bisa hidup tanpa bakteri. Sebagian besar manusia mempelajari bakteri dalam konteks penyakit.
Hal ini membuat manusia cenderung berpikir tentang bahaya yang ditimbulkan bakteri ini. “Suatu tantangan memikirkan cara bakteri membantu manusia karena kecenderungan yang lebih dari sekadar proses kompleks yang tak hanya sekali,” ungkap Maczulak.


Di dalam tanah dan laut, bakteri merupakan pemain utama dalam dekomposisi bahan organik serta siklus daur ulang unsur kimia seperti karbon dan nitrogen yang diperlukan bagi kehidupan manusia.

Karena tanaman dan hewan tak menghasilkan molekul nitrogen yang dibutuhkan manusia untuk hidup, bakteri tanah dan cyanobacteria (alga hijau-biru) memainkan peran mutlak yang sangat diperlukan dalam mengubah nitrogen atmosfer menjadi amonium atau nitrat.

Keduanya merupakan bentuk nitrogen yang bisa diserap tanaman untuk menghasilkan asam amino dan asam nukleat, blok pembangun DNA. Manusia memakan tanaman dan menuai keuntungannya.

Selain itu, bakteri juga memainkan peran siklus zat penting lain untuk kehidupan manusia, yakni air. Beberapa tahun terakhir, para ilmuwan dari Louisiana State University menemukan bukti, bakteri mewakili banyak partikel-partikel kecil yang menyebabkan percepatan awan menjatuhkan salju dan hujan.

Di luar dan di dalam tubuh manusia, bakteri masih menawarkan manfaat lain. Dalam sistem pencernaan, bakteri membantu mencerna makanan, seperti serat tanaman yang tak bisa dengan baik ditangani manusia.

“Manusia mendapat lebih banyak gizi dari makanan berkat bakteri,” kata Maczulak. Menurut Maczulak, bakteri dalam sistem pencernaan juga menyediakan vitamin yang diperlukan manusia seperti biotin dan vitamin K dan sumber utama nutrisi lain.

Percobaan pada kelinci menunjukkan, hewan yang dibesarkan dalam lingkungan steril tanpa bakteri mengalami kekurangan gizi dan mati muda. Menurut Maczulak, di luar tubuh, ‘hutan bakteri’ di kulit (menurut New York University, terdapat 200 spesies bakteri terpisah pada orang normal) mendominasi lingkungan kulit dan sumber dayanya serta menjaga agar bakteri lain tak dapat masuk.

Di dalam atau luar tubuh, bakteri terbukti menjadi bagian penting dari perkembangan sistem kekebalan tubuh. Menurut ahli biologi mikro Gerald Callahan di Colorado State University, bakteri baik jinak atau bahaya, menjadi bilangan prima sistem kekebalan tubuh dalam merespon patogen penyerang di kemudian hari.

Studi Callahan yang diterbitkan dalam New EnglandJournal of Medicine ini juga menunjukkan, anak-anak yang terlindung dari bakteri, memiliki kesempatan lebih tinggi terkena asma dan alergi. Bukan berarti bakteri menguntungkan tak bisa berbahaya.

Biasanya, bakteri bermanfaat dan bakteri berbahaya secara eksklusif mutual, ungkap Maczulak. Namun, kerjanya tumpang tindih, terutama pada bakteri yang mendiami tubuh. “Bakteri Staph menjadi contohnya, bakteri ini ada di seluruh kulit,” katanya.

Sebuah koloni Staphylococcus Aureus yang hidup di lengan mungkin bekerja bersama, menyerang penyusup tanpa merugikan tubuh namun jika sistem kekebalan tubuh terganggu, bakteri ini bisa mengamuk dan menyebabkan infeksi.

Jumlah sel bakteri yang ada dalam tubuh manusia diperkirakan 10 kali lebih banyak dibanding jumlah sel manusia. “Hal ini membuat banyak ilmuwan menggambarkan manusia lebih mirip bakteri dibanding manusia,” kata Maczulak. Terdengar sedikit menakutkan, “Namun, hal ini membantu Anda memvisualisasikan seberapa besar peran organisme”.

Sumber :
teknologi.inilah.com